Bandung, kota yang dikenal sebagai Paris Van Java, bukan hanya surga pariwisata dan kuliner, tetapi juga menjadi tempat berkembangnya banyak kisah inspiratif dari pelaku usaha daerah. Salah satunya adalah cerita tentang Sari Setiawan dan Sari Batak, dua sosok perempuan tangguh yang berhasil menaklukkan tantangan hidup dan membangun bisnis kuliner khas Sumatera Utara di tengah pesatnya persaingan bisnis kuliner di Jawa Barat.
Sari Setiawan, perempuan asal Medan yang mulai mengadu nasib ke Bandung sejak tahun 2007, dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan pantang menyerah. Awalnya, Sari datang ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan, namun keterbatasan ekonomi membuatnya harus mencari pemasukan tambahan. Ia pun mencoba peruntungan dengan menjual aneka makanan ringan khas Medan kepada teman-teman kos dan kampus.
Tak disangka, makanan buatannya banyak disukai. Berbekal tekad dan dukungan keluarga, Sari memantapkan diri menggeluti usaha kecil-kecilan ini. Pada tahun 2009, ia bertemu dengan Sari Batak, perempuan Mandailing yang juga gemar memasak, yang kemudian menjadi rekan bisnis dan sahabat dekatnya.
Mereka memulai usaha dengan membuka stand kecil di area kampus. Menu andalannya meliputi lemang Medan, saksang Batak, arsik ikan mas, dan beberapa makanan ringan khas Sumatera Utara. Meski awalnya hanya sedikit yang mengenal makanan Batak di Bandung, mereka tidak patah semangat. Kedua Sari ini aktif memperkenalkan menu-menu otentik dengan rasa asli yang diwariskan dari keluarga mereka.
Kesabaran dan inovasi akhirnya membuahkan hasil. Usaha kuliner mereka makin dikenal oleh mahasiswa rantau asal Sumatera, juga oleh warga Bandung sendiri yang penasaran dengan rasa khas masakan Sumatera Utara. Tak jarang, mereka mendapat pesanan dalam jumlah banyak untuk acara keluarga maupun komunitas.
Sari Setiawan dan Sari Batak sadar bahwa untuk memenangkan persaingan di Bandung, diperlukan inovasi dan pelayanan terbaik. Beberapa langkah yang mereka lakukan antara lain:
Strategi-strategi inilah yang membuat usaha kecil Sari Setiawan dan Sari Batak berkembang pesat. Mereka bahkan mulai berani membuka kedai sederhana di kawasan Dago, yang menjadi salah satu sentra kuliner di Bandung.
Pandemi COVID-19 sempat menjadi ujian berat bagi usaha mereka. Penurunan daya beli masyarakat dan pembatasan aktivitas membuat omzet menurun drastis. Namun, Sari Setiawan dan Sari Batak tidak tinggal diam. Mereka berinovasi dengan:
Perlahan tetapi pasti, mereka mampu bangkit dari keterpurukan dan bahkan mengantongi pelanggan baru dari berbagai kota di Jawa Barat.
Tidak hanya fokus pada pengembangan usaha sendiri, kedua Sari ini juga peduli terhadap lingkungan sekitar. Mereka aktif melibatkan ibu-ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya untuk membantu produksi makanan ringan. Selain memberikan pelatihan, mereka juga membuka peluang kerja bagi masyarakat yang membutuhkan.
Semangat kebersamaan dan saling mendukung ini menjadi salah satu kunci bertahannya bisnis di tengah persaingan yang kian ketat.
Kisah Sari Setiawan dan Sari Batak menjadi bukti nyata bahwa keberhasilan tidak selalu hanya soal modal besar, tapi juga keberanian untuk memulai, ketekunan, dan inovasi yang berkelanjutan. Mereka menginspirasi banyak anak muda, terutama mereka yang merantau atau berasal dari luar daerah, untuk berani mengejar impian dan tidak takut untuk berwirausaha.
Kini, usaha mereka telah berkembang dan dikenali sebagai salah satu kedai makanan Batak terbaik di Bandung. Tidak jarang pelanggan datang dari luar kota hanya untuk menikmati masakan otentik buatan kedua Sari ini.
Menurut Sari Setiawan, “Jangan pernah takut memulai dari nol. Setiap keberhasilan pasti diawali dengan proses yang panjang dan bekerja keras. Jangan cepat puas, sebab inovasi adalah kunci utama bertahan di dunia wirausaha.”
Sari Batak menambahkan, “Selalu rawat silaturahmi, baik dengan pelanggan maupun dengan pelaku usaha lain. Karena bisnis yang sehat adalah bisnis yang saling mendukung dan tumbuh bersama.”
Kisah perjuangan Sari Setiawan dan Sari Batak menunjukkan bahwa semangat wirausaha dan nilai-nilai kebersamaan mampu menghadirkan harapan baru, bahkan di tengah tantangan hidup yang berat. Dari dapur sederhana di Bandung, kini nama mereka dikenal luas sebagai pelopor makanan khas Sumatera Utara di tanah Sunda. Semoga kisah mereka mampu menjadi inspirasi dan motivasi bagi siapa saja untuk tidak mudah menyerah dalam menggapai mimpi.